Empat Tahun Menunggu: Perjalanan Desa Massangkae Menuju Digitalisasi Desa

Penulis:

Desa Massangkae, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan - “Sebenarnya sudah tertarik, tetapi apakah sekarang waktu yang tepat? Bagaimana dengan biayanya? Apakah benar-benar akan membantu pekerjaan desa?”

Pertanyaan seperti itu mungkin pernah muncul ketika sebuah pemerintah desa mempertimbangkan untuk mulai menggunakan sistem digital.

Desa Massangkae juga pernah berada pada posisi tersebut.

Ketertarikan Sekretaris Desa Massangkae terhadap DIGIDES sebenarnya sudah muncul sejak 2021. Ia mulai mengenal DIGIDES melalui media sosial dan mengikuti perkembangannya. Dari sana, muncul keyakinan bahwa teknologi dapat membantu pekerjaan administrasi dan pelayanan di desa.

Namun, ketertarikan saja belum cukup untuk mengambil keputusan.

Ketika Digitalisasi Masih Menjadi Pertimbangan

Pada saat itu, penggunaan sistem digital masih perlu dipertimbangkan oleh pemerintah Desa Massangkae, terutama dari sisi biaya.

Bagi desa, keputusan untuk menggunakan sebuah sistem tentu tidak hanya berkaitan dengan keinginan untuk mengikuti perkembangan teknologi. Ada anggaran yang harus diperhitungkan, kebutuhan yang harus dipastikan, serta pertanyaan mengenai seberapa besar manfaat yang nantinya benar-benar dirasakan oleh perangkat desa.

Sekretaris Desa Massangkae pun terus menyampaikan pandangannya kepada Kepala Desa.

Menurutnya, sebuah sistem sebaiknya tidak hanya dilihat dari biaya yang dikeluarkan, tetapi juga dari fungsi dan manfaat yang diberikan dalam jangka panjang.

“Tidak masalah jika membutuhkan biaya lebih, asalkan benar-benar berfungsi.”

Pembahasan mengenai digitalisasi kemudian tidak berhenti pada Kepala Desa dan Sekretaris Desa. Perangkat desa turut diajak berdiskusi mengenai kebutuhan pekerjaan sehari-hari, termasuk bagaimana teknologi dapat membantu administrasi, pengelolaan arsip, hingga pelayanan kepada masyarakat.

Namun, proses pengambilan keputusan memang membutuhkan waktu.

Ketertarikan yang muncul pada 2021 tersebut baru akhirnya berujung pada penggunaan DIGIDES sekitar empat tahun kemudian.

Empat tahun bukan waktu yang singkat. Tetapi bagi Desa Massangkae, waktu tersebut menjadi bagian dari proses untuk memastikan bahwa keputusan digitalisasi benar-benar memiliki manfaat.

Setelah Digunakan, Apa yang Berubah?

Pertanyaan berikutnya mungkin justru lebih penting: setelah sistem digital digunakan, apakah benar pekerjaan menjadi lebih mudah?

Bagi perangkat Desa Massangkae, jawabannya mulai terlihat dalam pekerjaan sehari-hari.

Salah satu yang dirasakan adalah dalam administrasi kependudukan. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual, seperti memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) saat membuat dokumen, menjadi lebih praktis dengan dukungan sistem.

Pengelolaan arsip desa juga menjadi lebih mudah. Dokumen yang sebelumnya bergantung pada penyimpanan secara manual dapat dikelola secara digital sehingga lebih mudah ditemukan kembali ketika dibutuhkan.

Hal-hal yang terlihat sederhana tersebut justru dapat memberikan perbedaan dalam rutinitas perangkat desa.

Ketika pekerjaan administratif menjadi lebih praktis, waktu yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan dapat lebih efisien. Ketika arsip lebih terorganisasi, perangkat desa tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari dokumen yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, perubahan tersebut juga berpengaruh pada pelayanan kepada masyarakat.

Digitalisasi Bukan Sekadar Mengubah Cara Kerja

Pengalaman Desa Massangkae menunjukkan bahwa digitalisasi desa tidak selalu dimulai dari keputusan yang cepat.

Ada desa yang masih mempertimbangkan biaya. Ada yang masih bertanya apakah sistem benar-benar dibutuhkan. Ada pula yang mungkin sudah tertarik, tetapi belum yakin kapan harus memulai.

Hal tersebut merupakan bagian dari proses.

Namun, ketika teknologi yang dipilih memang sesuai dengan kebutuhan, manfaatnya mulai dapat dirasakan dalam pekerjaan sehari-hari.

Sekretaris Desa Massangkae sendiri menyampaikan pengalamannya setelah menggunakan DIGIDES:

“Alhamdulillah, manfaatnya banyak. Pekerjaan jadi lebih mudah, arsip terasa lebih aman, pelayanan lebih cepat. Intinya, the best.”

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi desa bukan sekadar tentang memiliki sistem berbasis teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana sistem tersebut benar-benar digunakan untuk membantu pekerjaan pemerintahan desa dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Digitalisasi juga dapat memperluas akses masyarakat terhadap informasi desa. Melalui website desa, berbagai informasi mengenai kegiatan, layanan, potensi, dan perkembangan desa dapat disampaikan secara lebih mudah dan terbuka. Kehadiran website menjadi salah satu bagian dari pemanfaatan teknologi untuk membangun komunikasi yang lebih dekat antara pemerintah desa dan masyarakat.

Dengan begitu, digitalisasi tidak hanya membantu pekerjaan di dalam kantor desa, tetapi juga membuka akses informasi yang lebih luas bagi masyarakat.

Cek disini https://massangkae.digitaldesa.id/

Setiap Desa Punya Waktunya, tetapi Perubahan Tetap Perlu Dimulai

Tidak ada satu waktu yang sama bagi setiap desa untuk memulai digitalisasi.

Namun, semakin banyak pekerjaan administrasi, pengelolaan data, dan kebutuhan pelayanan yang harus ditangani, semakin penting pula bagi desa untuk memiliki cara kerja yang lebih efektif dan terorganisasi.

Desa Massangkae membutuhkan waktu empat tahun sejak pertama kali mengenal DIGIDES hingga akhirnya memutuskan untuk menggunakannya. Proses tersebut menunjukkan bahwa keputusan digitalisasi memang perlu dipertimbangkan dengan matang.

Tetapi pengalaman yang dirasakan setelahnya juga memberikan satu hal penting untuk dipikirkan:

Digitalisasi bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi, melainkan tentang mencari cara agar pekerjaan desa dapat dilakukan dengan lebih mudah, data lebih terkelola, dan pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih baik.

Mungkin setiap desa memiliki alasan yang berbeda untuk menunda.

Namun, ketika kebutuhan untuk bekerja lebih efektif semakin besar, pertanyaannya bukan lagi “Perlukah desa mulai digital?”, melainkan:

“Kapan desa siap memulainya?”

Bagikan:

ARTIKEL LAINNYA

SSL